psikologi travel for concert
sains di balik niat mengejar idola hingga ke luar negeri
Kemarin layar laptop teman saya sampai hang karena terlalu banyak membuka tab peramban. Dia sedang war tiket konser musisi favoritnya di negara tetangga. Padahal, saya tahu persis tabungannya baru saja pulih setelah pengeluaran besar bulan lalu. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita rela terbang ribuan kilometer, menguras isi rekening, dan mengorbankan jatah cuti demi melihat seseorang bernyanyi di atas panggung selama dua jam? Apakah ini sekadar fomo atau obsesi buta para penggemar? Ataukah sebenarnya ada dorongan sains dan psikologi yang jauh lebih tua dari yang kita sadari?
Kalau kita melihat ke belakang melalui lensa sejarah, fenomena menempuh jarak jauh demi sebuah perayaan ini sebenarnya bukan hal yang baru. Ratusan tahun lalu, leluhur kita sering melakukan perjalanan panjang melintasi gurun dan benua. Tujuannya? Ziarah spiritual. Mereka mencari pengalaman transenden, sebuah momen di mana mereka merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih agung. Di era modern, tempat ziarah itu telah berganti wujud. Kini ia berbentuk stadion raksasa dengan tata cahaya yang membelah langit malam. Saat kita mulai mencari tiket pesawat dan hotel, otak kita langsung menyalakan sirkuit kebahagiaan. Di fase ini, dopamin, sang molekul motivasi, mulai mengambil alih kendali. Uniknya, sains membuktikan bahwa puncak lonjakan dopamin sering kali tidak terjadi saat kita tiba di tempat konser, melainkan justru saat kita merencanakan dan mengantisipasi perjalanan tersebut. Otak kita menyukai proses berkhayal tentang hal indah yang akan segera datang. Namun, apakah sekadar rasa tidak sabar ini cukup untuk menjelaskan fenomena eksodus lintas negara ini?
Mari kita pikirkan secara logis sejenak. Kalau kita murni hanya ingin mendengarkan musik, aplikasi streaming sudah memberikan kualitas audio studio yang jauh lebih jernih. Kita bahkan bisa mendengarkannya sambil memakai piyama di kasur. Tapi, otak manusia sejak zaman purba dirancang untuk mencari interaksi sosial yang intens. Ketika kita melangkah masuk ke dalam stadion luar negeri, dikelilingi puluhan ribu orang dari berbagai negara dengan atribut yang mirip, otak kita melepaskan oksitosin dalam jumlah yang sangat masif. Ini adalah hormon ikatan sosial yang membuat kita merasa aman, diterima, dan dipahami oleh orang asing di sebelah kita. Kita juga digerakkan oleh apa yang dalam psikologi disebut sebagai scarcity principle atau prinsip kelangkaan. Konser seorang mega-bintang di luar negeri adalah momen langka yang mungkin tidak akan terulang dalam waktu dekat. Otak kita menerjemahkan kelangkaan ini sebagai sebuah urgensi tinggi, yang diam-diam mematikan sebagian fungsi analitis di korteks prefrontal kita. Pertanyaannya kemudian, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita pada detik-detik pertama saat lampu stadion dimatikan dan sang idola akhirnya muncul di atas panggung? Mengapa banyak dari kita yang tanpa sadar langsung menitikkan air mata?
Rahasia besarnya terletak pada sebuah fenomena luar biasa yang oleh para sosiolog disebut sebagai collective effervescence atau gejolak kolektif. Saat kita berteriak menyanyikan lirik yang sama dengan puluhan ribu manusia lainnya, sains menunjukkan bahwa detak jantung dan gelombang otak kita secara harfiah menjadi sinkron. Pada detik itu, ego kita lenyap. Kita berhenti menjadi individu yang sendirian dan melebur menjadi satu organisme raksasa yang bernapas, melompat, dan menangis bersama. Lebih dalam lagi, ada mekanisme neurologis yang bernama identity fusion. Ketika kita mengikuti perjalanan seorang idola—mendengarkan lagunya di saat patah hati, membaca perjuangannya di titik terendah—batas antara identitas kita dan identitas sang musisi menjadi kabur di dalam otak. Melalui bantuan mirror neurons atau saraf cermin di otak kita, keberhasilan mereka berdiri di panggung megah itu diproses secara biologis sebagai keberhasilan kita sendiri. Tangisan yang pecah di tengah konser itu bukanlah sekadar histeria. Itu adalah pelepasan beban emosional dan stres yang akhirnya tervalidasi secara komunal.
Jadi, teman-teman, ketika ada kerabat yang mengernyitkan dahi melihat kita rela makan mi instan berminggu-minggu demi terbang ke Singapura, Jepang, atau Eropa untuk sebuah konser, kita tidak perlu merasa bersalah atau kecil hati. Kita tidak sedang membuang uang untuk sekadar hiburan kosong. Secara psikologis, kita sedang berinvestasi pada sebuah pengalaman komunal untuk merawat kewarasan diri. Tentu saja, kita tetap harus mengaktifkan rasionalitas kita saat bertransaksi agar tidak terjebak masalah finansial di kemudian hari. Namun, dorongan untuk berpetualang, berkumpul, dan merayakan luapan emosi bersama manusia lain adalah salah satu insting paling purba yang membuat kita menjadi manusia. Pada akhirnya, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat ini, kita semua hanya butuh satu ruang aman. Sebuah tempat di mana kita bisa menyanyi cukup keras, hingga suara-suara kecemasan di dalam kepala kita bisa terdiam sejenak.